Kisah pertemuan Musa dengan Tuhan menurut Al-Qur’an dan alkitab
Al-Qur’an bercerita tentang pertemuan nabi Musa dengan Tuhan, ketika
beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir. Di perjalanan,
Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur’an memuat kisah ini
dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20 :9-14]
[28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan
dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia
berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku
melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari
(tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat
menghangatkan badan".[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api
itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya)
pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa,
sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (innii anaa allaahu
rabbu al'aalamiina)
[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? [20:10] Ketika ia
melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di
sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa
sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat
api itu". [20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil:
"Hai Musa. [20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah
kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
[20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan (kepadamu). [20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat Aku (innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa
fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii).
Secara jelas Al-Qur’an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan
diri-Nya dengan nama ‘Allah’ yang tiada ‘ilah’ selain diri-Nya.
Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari
Tuhan, bukan suatu istilah atau nama jabatan.
Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab
Keluaran 3:2-14, dengan gaya bahasa yang ‘sangat manusiawi’ dan sedikit
agak ‘complicated’ :
Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang
keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu
menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang
ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak
terbakar semak duri itu?" . Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang
untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu
kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia
berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari
kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang
kudus." Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah
Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut
memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan
sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar
seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku
mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk
melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar
dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang
berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het,
orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan
orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya
orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus
engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari
Mesir." Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku
yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"
Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda
bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa
bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di
gunung ini." Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku
mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu
telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana
tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman
Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah
kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku
kepadamu."
Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan
bermacam-macam sebutan : Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. Dalam
terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata
TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen
melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak
jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya
‘mempersiapkan jalan’ terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan
menyapa Musa, dan agak aneh juga ketika Musa menjawab ‘ya Allah’,
maksudnya tentunya ‘ya Tuhan’ untuk menunjukkan bahwa Musa sudah
mengerti yang menyapanya adalah Tuhan, dan dialog ‘nggak nyambung’
kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan ‘Akulah Allah ayahmu,
Allah Abraham, Ishak dan Yakub’, tentunya ini diartikan ‘Akulah Tuhan
dari nenek-moyangmu sebelumnya’. Lagi-lagi dialog ini terlihat tidak
nyambung karena dari jawabannya, Musa sudah mengetahui bahwa yang
menyapanya adalah Tuhan, artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan
tersebut juga merupakan Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa
memang belum mengerti.
Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkan adanya perintah
agar Musa untuk menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir’aun di Mesir,
Musa terkesan ragu dan keraguannya tersebut bukan terkait dengan Fir’aun
yang akan dihadapi, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri, Musa
mengatakan ‘apabila aku mendapatkan orang Israel’ menunjukkan prediksi
dia bahwa amanat yang akan dia lakukan akan mendapat tantangan dari kaum
Israel sendiri, dan tantangan tersebut terkait dengan ‘siapa yang
menyuruh Musa’. Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah
menyatakan bahwa Dia adalah Tuhannya nenek-moyang Musa sekaligus
merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, lalu mengapa
Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri..??. Sebagian tafsir
Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang
nama Tuhan :
“mah shemo?” [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk
menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?”
Namun penggunaan kata “ma” , bukan hanya bermaksud menanyakan nama
secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu.
http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070720183732
Lalu Tuhan menjawab ‘Aku adalah Aku’ dan ‘Akulah Aku yang mengutus kamu’. Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut :
“Ehyeh Asyer Ehyeh” yang artinya “AKU ADA YANG AKU ADA”. Lembaga Alkitab
Indonesia menerjemahkan, “AKU ADALAH AKU”. Terjemahan ini tidak tepat.
Jika “AKU ADALAH AKU”, seharusnya teks Ibrani tertulis “Anokhi hayah
Anokhi”. Kata “EHYEH”, merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan
sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata
“HAYAH”. G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological
Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah”
digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1}
“Exist, be Present” [Ada, Hadir] {2}”Come into Being” [menjadi] {3}
Auxilaries Verb [kata kerja bantu][f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam
bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku
Berada” . Namun saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi “AKU
[AKAN] ADA”.
Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama
diri-Nya, hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur’an yang menyatakannya
dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah. Penyebutan nama
Tuhan berdasarkan Al-Qur’an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan
Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan ‘inisiatif’ Tuhan
sendiri. Al-Qur’an mencatat kekhawatiran Musa tertuju kepada Fir’aun,
bukan kepada sikap kaumnya :
[20:45] Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui
batas". [20:46] Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir,
sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".
Alkitab melanjutkan cerita bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah
Musa dan Harun menghadap Fir’aun dan meminta agar dia membebaskan kaum
Israel dari penindasan, lalu Fir’aun bereaksi mempersulit pekerjaan kaum
Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik
menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21) lalu akibatnya Musa ‘memprotes’
Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan
menaklukkan Fir’aun (Keluaran 6:1) lalu dilanjutkan dengan ‘proklamasi’
nama Tuhan secara berulang-ulang :
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Akulah TUHAN. Aku telah
menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang
Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan
saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan
kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,
tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak
oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu
katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu
dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan
menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman
yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan
menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu,
yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa
kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada
Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk
menjadi milikmu; Akulah TUHAN."
Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap
merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa
jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak
bekerja dengan efektif, pernyataan ‘Aku adalah Aku’ tidak bisa
meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari
Fir’aun sehingga Tuhan kembali menjelaskan siap diri-Nya dengan
menyatakan nama dirinya YHWH, lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa
kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan
diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. Ada satu
pernyataan yang menarik disini, ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH
tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun
Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama
apa Tuhan membuat perjanjian..?? Katakanlah ada 2 pihak membuat
perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang
menunjukkan identitasnya, lalu keduanya membubuhkan tanda-tangan diatas
materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat
aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya, itu
bukanlah suatu perjanjian. Dan lebih hebatnya lagi, kaum Israel tetap
tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9)
Alkitab memuat informasi simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan, saya sudah menulisnya disini :
http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=4311_0_15_0_M
Persoalan ini memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri,
dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan mana dari pendapat
mereka yang benar.
Teori pertama, dikemukakan oleh John Mc.Faydyen. Menurutnya, para
Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya
mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama
Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di
Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama bagi Tuhan Israel.
Teori kedua, dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson.
Menurutnya, ungkapan dalam Keluaran 6:3, bukan suatu pernyataan
melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat,
“Namun dengan Nama-Ku Yahweh, belumkah/tidakkah Aku memperkenalkan diri
pada mereka?”.
Teori ketiga dari Henry Cowles. Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3
merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun
bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para
leluhur Israel.
http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070720183700
Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan :
Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat
ini adalah : Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej
2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham,
Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk
menyebut nama Yahweh.
Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa
demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang
membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai
pemberi Torah bagi Israel.
Ketiga, makna kata “tidak” atau “belum” dalam Keluaran 6:2, bukan
bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada
pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang
gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun
lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan
karakter dan karya-Nya.
Dalam diskusi dengan penulis yang bersangkutan, saya menerima jawaban
mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan
manusia sebelum Musa, jawabannya adalah :”Karena manusia semakin jauh
terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan
disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai
nama pribadinya”. Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan
tanda-tanya :
1. Karena Kejadian 3:24 menceritakan Adam dan Hawa, kalau alasan
tersebut yang dipakai maka seharusnya pihak yang ‘lupa’ dengan nama
Tuhannya adalah Adam dan Hawa, namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah
yang dinyatakan menyebut nama tersebut.
2. Kalau terkait dengan soal popularitas maka tentunya harus dijelaskan
berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan
dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa
digeneralisir karena toh nama YHWH dikatakan sudah dikenal.
Jelas alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul
disekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali
diperkenalkan tetap menjadi tanda-tanya…
Asal-mula nama YHWH dan temuan Arkeologi
Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan :” Kalau Al-Qur’an
menyatakan nama tersebut adalah ‘Allah’ sedangkan alkitab menjelaskan
nama YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut..??”. Indikasi
tentang asal-mula nama ini bisa kita dapatkan pada temuan arkeologi
berupa prasasti yang dibuat dijaman Fir’aun Amenhotep III :
Prasasti Amenhotep III
Diperkirakan prasasti tersebut dibuat tahun 1400 BC pada pemerintahan
Fir’aun Amenhotep III. Fir’aun ini termasuk salah seorang raja Mesir
dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil
melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria
dan Palestina sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan
suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki
suku-suku nomaden tersebut dengan ‘Shahu’. Al-Qur’an dan alkitab
mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah
berhala [QS 7:138] dan Keluaran 23:23-24. Prasasti tersebut
mengidentifikasi salah satu Shahu yang berada diwilayah Palestina dengan
sebutan ‘the land of the Shasu of Yahweh’. Terdapat beberapa analisa
dari para arkeolog soal nama ini :
Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of
Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been
identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa
should be translated as “the land of the nomads who worship the God
Yahweh” rather than as “the land of the nomads who live in the area of
Yahweh.” In addition, the fact that no geographical term anything like
Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the
words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of
the God of Israel. (Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan
tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang
sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa
frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai "tanah suku
nomaden yang menyembah TUHAN," daripada sebagai "tanah suku nomaden yang
tinggal di daerah Yahweh. "Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah
geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan
bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal
menyebutkan dari Allah Israel).
Para ahli tersebut berusaha untuk memunculkan istilah ‘Yahweh’ tersebut
bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan
dari suku nomaden tersebut.
Amnehotep III berkuasa tahun 1390 – 1352 BC, jauh sebelum masa
pemerintahan Ramses II dan Meneptah, berkuasa tahun 1279 – 1203 BC, yang
merupakan Fir’aun yang diindikasikan sebagai masa hidupnya nabi Musa
dan peristiwa eksodus sesuai informasi alkitab.
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_raja_Mesir_kuno
Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan
beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama :
1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum
peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang
hidup di Palestina mengenal nama tersebut..??
2. Kalau dipakai hipotesa yang lain yang menyatakan bahwa nama tersebut
sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah
terpisah dari Tuhan) , lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer
dikenal dari suatu suku nomaden penyembah berhala dan bukan didapatkan
dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai
budak..??
Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh
sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suatu Shasu
diwilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa
menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan.
Apakah ini mungkin terjadi..??
Kedegilan Bangsa Israel
Kita harus terlebih dahulu mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku
kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter
mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk
kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain Apa yang disembah oleh nabi
Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang
lautan, mereka mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan
ketika Musa tidak bersama mereka 40 hari karena sedang berada diatas
bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya,
sehingga Musa sampai marah dan membanting loh-loh batu berisi
hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap
kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s/d 20 dan Kejadian 32.
Sampai akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan ‘prediksi’ tentang
masa depan bangsa ini :
Ini kata Tuhan pada Ulangan 31:16-18
TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat
perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan
bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke
mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari
perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan
bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan
menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis
dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu
mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab
Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan
menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala
kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling
kepada allah lain.
Ini kata Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29 :
Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah
kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada
orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: "Ambillah
kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN,
Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku
mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku
hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu
terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul
kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku
akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan
bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku
mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang
telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka
akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan
menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."
Bahkan sampai dijaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa
Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti yang ada dalam
Matius 23:13-36 :
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, karen...a kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga
di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi
mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan
berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak
ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan
demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah
keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek
moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!
Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?
Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan : Allah) mengutus kepadamu
nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di
antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu
sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya
kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai
dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang
kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"
Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap
nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke
jaman Yesus Kristus.
Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur’an :
[7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka
setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala
mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan
(berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa
menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui
(sifat-sifat Tuhan)". [7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan
kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka
kerjakan.
Informasi dari alkitab dan Al-Qur’an ini membuka peluang bahwa masuknya
Tuhan selain apa yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu
keniscayaan, bahwa suatu waktu ketika Musa telah meninggal, maka bangsa
Israel akan menyembah Tuhan yang lain. Lalu bagaimana cara menjelaskan
mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama..??
Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab
pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat/Pentateuch yang
semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang
yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya memang merupakan
ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan
Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan tidak mungkin berasal dari
orang-orang Israel setelah kematian Musa yang diprediksi sendiri oleh
Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya.
Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5
kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang
penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh
beberapa orang penulis.
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/BIB-PPL1_04_Hipotesa.pdf
Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, isi dan arah informasi yang
terdapat didalamnya selalu terkait dengan kepentingan siapa yang
menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat
mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari
orang-orang :”Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh
nenek-moyang kita sebelumnya..??”, terlihat kesan bahwa ayat yang
berbunyi ‘tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri’ sengaja
dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang
lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut
oleh nenek-moyang mereka karena nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya
dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa terlihat tidak begitu meyakinkan,
lalu sipenulis tersebut memunculkan penyebutan nama tersebut pada
Kejadian 2:7 dan 4:26. Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka
makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan suatu kitab
sejarah yang tambal-sulam.
Berdasarkan urut-urutan penjelasan diatas mulai penjelasan alkitab dan
Al-Qur’an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan
beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh,
temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa
Israel, pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat/Pentateuch, maka kita
bisa menarik suatu benang merah akan kemungkinan nama Yahweh tersebut
merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, diadopsi
dari suatu nama berhala yang disembah oleh sebuah kaum nomaden di
wilayah Palestina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar