Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang setiap kejahatan yang
didalangi oleh Yahudi, selayaknya kita perlu menelaah ulang pernyataan
D’Esraeli dalam bukunya Coningsby (p.25), “Dunia sekarang
diperintah oleh orang-orang dengan cara yang berbeda dari apa yang ada
dalam pikiran orang-orang yang tidak mengerti hakekat persoalan”.
Begitu juga dengan Otto Von Bismarck yang menggambarkan adanya
sebuah kekuatan yang tidak terlihat, namun keberadaannya bisa dirasakan,
hal ini yang biasa dinamakan dengan Imponderabilia, yang artinya “Tidak Bisa Dibayangkan”.
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh Yahudi di
atas dapat diketahui bahwasannya “gerakan terselubung” yang dilakukan
oleh sesepuh Zionis akan lebih mudah dalam menguasai dunia. Sebab semua
agenda telah tersusun rapi dalam dokumen-dokumen yang dicantumkan dalam
protokol Yahudi. Karena gerakan Zionisme yang diciptakan oleh mayoritas
kaum Yahudi merupakan rancangan besar yang mensyaratkan terciptanya
Negara Yahudi yang nantinya tidak menutup kemungkinan mampu menguasai
dunia internasional.
Maka untuk mengetahui rancangan besar tersebut akan diuraikan oleh
penulis khususnya yang berhubungan dengan ideology konspirasi Yahudi
sebagai usaha menguasai dunia dan menjadikan Negara non-Yahudi sebagai
budak yang akan melayani para Zionis Israel.
Untuk menentukan siapa sebenarnya kaum Yahudi pada hakekatnya tidak
ada patokan khusus didalamnya. kaum Yahudi seringkali mengklaim bahwa
mereka adalah keturunan Abraham dari garis Abraham-Isaaq-Jacob. Namun
pada kenyataannya mereka sendiri kesulitan dalam menentukan siapa yang
patut disebut sebagai Yahudi. Istilah “Yahudi” (Inggris: Jews, Prancis: Juif) sebagai bangsa dan agama diambil dari kata Latin “Judaeus” yang seringkali menunjuk bangsa Yahudi atau Israel (Jacob).
Dalam perjanjian lama, istilah ini menunjuk pada rakyat kerajaan
Judah yang dikontraskan dengan gentelis (non Yahudi), sedangkan dalam
perjanjian baru, istilah jew diterapkan untuk orang yang secara etnis atau agama adalah Yahudi, namun lebih menekankan unsur etnis. [Baca: “Tinjauan Historis, Konflik Yahudi, Kristen, Islam” Adian Husaini, Jakarta: GIP, 2004, p.19]
Sebagai bukti dari keseriusannya, ia berhasil mengadakan kongres
Zionis pertama, dalam catatan hariannya yang terkenal setelah kongres
Zionis 1 berbunyi: “…saya telah mendirikan Negara Yahudi, jika aku
mengatakannya hari ini, aku akan ditertawakan oleh seluruh alam semesta,
dalam waktu lima tahun, mungkin. Dan dalam waktu lima puluh tahun
pasti, setiap orang akan menyaksikannya”. Hal itupun terbukti setelah berdirinya Negara Israel pada 14 mei 1984, tepatnya 50 tahun 3 bulan.
Sebagaimana contoh lainnya telah dikatakan oleh Ben Gurion (nama
aslinya David Gruen), pemimpin Zionis Israel, pada tanggal 31 Agustus
1949.
Dari sini dapat diketahui bahwa agenda-agenda yang direncanakan
bukan hanya wacana yang bersifat sementara, namun agenda tersebut
bagaikan ular berbisa yang siap memangsa Negara manapun yang berusaha
untuk menghalangi usahanya. Meskipun butuh waktu bertahun-tahun untuk
merealisasikannya.
Menurut Roger Geraudy, Zionisme menganut Rasisme sebagai sebuah
gerakan politik. Paham ini berpautan secara sempurna yang mengilhami
segala undang-undang serta tindakan Israel. Rasisme ini merupakan
prinsip utama yang mengorganisasikan rencana yang telah disusun oleh
Theodor Herzl sebagaimana telah diungkapkan dalam bukunya “The Jewish
State”. Berbagai bentuk rasisme ini juga banyak diungkap dalam
dokumen-dokumen rahasia sesepuh Zionis sebagaimana dalam diary
catatan-catatan hariannya yang dipaparkan secara mendetail mengenai
program Zionis Yahudi dalam upaya menguasai dunia dengan jalan
menghalalkan berbagai cara..
Setelah berhasil mendirikan Negara Yahudi (Israel) pada tahun 1984
dan menyatukan pikiran untuk segera mengumpulkan seluruh kaum Yahudi
disatu Negara (tanah palestina yang dijanjikan), mereka membentuk satu
peradaban baru hingga saat ini masih dipertahankan. Peradaban tersebut
adalah sekularisasi agama. Israel modern yang merupakan produk dari
sekularisme dan kecenderungan beragama masih memiliki hubungannya dengan
Zionis. Terkecuali dengan kelompok anti Zionis dari kaum Yahudi di
dunia, adapun karakter yang dimiliki Negara Yahudi yaitu beragama dan
sekuler, bahkan mereka meyatupadukan antara keduanya. Hal inilah yang
saat itu dan nantinya akan dijadikan doktrin utama untuk menguasai
kebijakan-kebijakan Negara lainnya seperti, melumpuhkan perekonomian,
agama, budaya, bahkan ilmu pengetahuan pun akan mereka sekulerkan dengan
cara mereka.
Dari penggunaan istilah Zionisme untuk memberi nama gerakan politik
sekuler pragmatis kaum Yahudi, telah tampak betapa cerdas kaum Yahudi
dalam menyusun ideology mereka.
Rencana yang tertanam dalam ideology Zionis bukan hanya permainan
politik semata melainkan rencana setan yang akan menjebak dunia
internasional kedalam lubang hasil konspirasi.
Propaganda yang lama dilakukan oleh Zionisme terhadap Negara lain
hanyalah sebagai gerakan politik yang direncanakan untuk memperlancar
jalan menguasai dunia.
Sebagaimana diungkapkan oleh R. Garaudy, ada tiga serangkai
penjahat Zionis yang selalu mencari jalan untuk memprofokasi terjadinya
bentrokan antar Negara maupun manusia demi kepentingan politik Yahudi.
Sejak berabad-abad silam, Israel tak pernah berhenti melakukan
kekejaman kepada rakyat palestina, sejak sebelum pemerintahan Turki
Ustmani (Ottoman dibawah pimpinan sultan Abdul Hamid II (1876-1909 M),
Perang Salib, hingga kini. Baik di Palestina, Inggris, Spanyol hingga
Negara lain, Israel terus memerangi umat islam. Sifat kejam dan angkuh
memang sudah menjadi sifat kaum Yahudi. Mereka ingin menampakkan bahwa
Israel adalah Negara Yahudi yang dipilih tuhan sebagai tuan di dunia ini
dan Negara lainnya merupakan pembantunya.
Negara Israel merupakan wilayah kecil tidak lebih dari 8000 mil
atau 28.000 km persegi. [Baca: Lihat Tulisan Don Peretz & Glideon
Doron, Dalam “The Government And Politics Of Israel”, 1997, P.].
Yahudi, dengan penduduk sedikit tidak pernah merasa canggung untuk
menyerang Negara yang lebih luas dan lebih banyak penduduknya sebab
mereka memiliki kekuatan militer serta mendapat dukungan penuh dari
Negara yang berhasil mereka lobie demi tercapainya rencana untuk
menghancurkan islam. Sebagai misal,
Penyerangan Israel terhadap palestina yang mendapatkan dukungan
dari kalangan Kristen fundamentalis dengan menggunakan hak historis
Israel atas palestina, dengan merujuk pada kitab kejadian 12:3 “aku
akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk
orang-orang yang mengutuk engkau dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan
mendapat berkat”. Dengan ini Zionis merasa ada kewajiban untuk memerangi siapapun yang mereka anggap sebagai musuh penghalang tujuan.
Gerakan Zionis yang disebut dengan Fremansory merupakan organisasi
rahasia yang menegaskan nilai humanisme daripada keagamaan. Gerakan ini
didirikan di London pada 1717, pengaruh fremansori terhadap gerakan
revolusioner Jeunes Turcs (orang turki muda), yang pada tahun 1908
menggulingkan pemerintahan otoriter Sultan Abdul Hamid II. Gerakan ini
terdiri dari perwira muda dan cendekiawan yang dipengaruhi pemikiran
revolusi Perancis. Basis utamanya adalah kota Selanik (Thessaloniki,
sekarang di Yunani), kota Ustmani yang paling modern dengan penduduk
Yahudi yang paling banyak.
Di Indonesia, gerakan ini pernah mempengaruhi organisasi Budi
Oetomo, dalam organisasi ini terdapat anggota Fremasonry yaitu
Tirtokoesoemo), gerakan tersebut dikepalai oleh Weiz Howight yang
kemudian diberi nama samaran “perkumpulan cendekiawan Zion” yang oleh
Yahudi disebut dengan perkumpulan nurani Yahudi.
Menurut Don Peretz & Glideon Doron, rahasia Zionisme terletak
pada adanya persekongkolan (konspirasi) antara Zionis dengan
“kemanusiaan”. Adanya singgungan kebenaran dengan kejahatan menjadi satu
sumber utama yang mana kebenaran diwakili oleh keberadaan agama samawi
sedang yang lain lebih bersifat membinasakan. Konspirasi tersebut telah
menjadi latar belakang berbagai sejarah, prinsip kemanusiaan digunakan
sebagai senjata yang akan meletakkan paham atheisme dan menghancurkan
Negara islam.
Jendral Pyke penerus pimpinan tertinggi kekuatan setan dan juga
pimpinan konspirasi internasional sebagai pewaris Freemasonry, pernah
menulis surat yang ditujukan kepada Freemasonry pusat (Amerika, 14 Juli
1889) yang menginginkan pembentukan formasi baru sebagai penentang
kebenaran. Surat tersebut berisikan ideologi konspirasi mereka yang
selama ini terselubung dan dijadikan pedoman bagi Zionisme
internasional. Adapun tujuan pembentukan organisasi rahasia dan
terselubungnya rahasia konspirasi serta idelogi konspirasi yang
didasarkan pada jabatan dan golongan inilah yang menjadikan para
pengamat sejarah sulit untuk mengungkap rahasia konspirasi dan hakekat
Freemasonry.
Dari sini dapat diketahui bahwasannya konspirasi yang dilakukan
Zionis bersama sistem politik Negara yang mendukung kejahatan Yahudi
memiliki tujuan yang satu. Mereka bersama menginginkan hancurnya dunia
atau terhapusnya Islam dari muka bumi sehingga mereka leluasa untuk
mendirikan Negara Yahudi di Palestina sebagai bentuk janji Tuhan. Untuk
itu mereka melakukan berbagai konspirasi besama Negara yang telah
berhasil dihasut. Sementara itu, kepandaian kaum Yahudi telah
dimanfaatkan sebagai penggerak gerakan rahasia (Freemasonry) demi
terwujudnya keinginan menguasai dunia.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Zionis
merupakan gerakan yang menjadikan rasisme sebagai asas gerakan
politiknya. Mereka melakukan berbagai konspirasi berdasarkan kitab
Talmud. Dengan keyakinan sebagai umat yang terpilih dan berhak atas kota
suci (Palestina) maka kaum Zionis yakin akan keharusan melakukan
segalanya (termasuk kekejaman dan penindasan), pernyataan Talmud inilah
yang dijadikan sebagai ideology konspirasi mereka.
Sebelum membahas lebih jauh tentang berbagai proyek yang dirancang oleh
Konspirasi Internasional, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu
tentang sebuah organisasi Yahudi sekaligus otak dari setiap kejadian
sejarah dunia, yakni Freemasonry. Sebuah organisasi yang berasal dari
para Biarawan Sion atau Ksatria Templar yang melarikan diri ke
Skotlandia, Portugal, dan Spanyol, dari kejaran Raja Perancis, Phillipe
Ie Bel atau Phillipe IV dan Paus Clement V. Demi keamanan, mereka pun
mengganti nama organisasi dan pribadi mereka menjadi Freemason.
Dari Biarawan Sion Sampai ke Freemasonry
Menurut
Dossiers Secretsatau dokumen rahasia, Biarawan Sion (
Priory Sion)
atau Ordo Sion didirikan oleh Godfroi de Bouillon pada 1090. Namun di
dalam Dokumen Biara disebutkan Biarawan Sion didirikan pada 1099,
bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan Pasukan Salib yang
dipimpin oleh Godfroi dari kaum Muslimin. Markas induknya berada di
sebuah gereja khusus bernama
Abbey of Notre Dame du Mount de Sion di Yerusalem, atau di sebuah bukit terkenal di luar Yerusalem, di selatan kota bernama Gunung Sion
[1].
Konon, di gunung inilah Nabi Daud tinggal dan membangun rumah
peribadatan yang kemudian bernama Bandar Daud. Bahkan kaum Yahudi
mempercayai bahwa Tuhan tinggal
di Gunung atau disebut juga Bukit Zion itu
[2]. Dari sinilah berasal nama Ordo Sion itu.
Dalam sejarahnya, selain mereka berhasil mengambil alih Yerusalem dari
kaum Muslimin, mereka pun berhasil mengangkat adik kandung Godfroi de
Bouillon, Baldwin I. Menurut para peneliti, diangkatnya Baldwin menjadi
raja di Yerusalem, tidak lain karena mereka saat itu sangat berkuasa. Di
dalam perjalanannya, Ordo Sion yang juga disebut Ksatria Templar ini
berhasil mendirikan sebuah tempat penitipan harta para peziarah Kristen
yang ingin ke Yerusalem. Selama bepergian para peziarah ini tidak perlu
khawatir, karena harta benda mereka dijaga oleh Ksatria Templar yang
bernama
Usury. Metode lembaga riba ini kemudian jauh-jauh hari diadopsi oleh bank-bank konvensional modern menjadi
Treasury atau
tempat penyimpanan benda-benda berharga. Para peziarah ini pun juga
diberi selembar kertas promis yang memiliki kode-kode yang begitu rumit
dan ketika tiba di Yerusalem mereka menukarnya di lembaga keuangan
Templar setempat dengan uang. “Inilah cikal bakal sistem cek tunai yang
kita kenal sekarang,” tulis
Knight Templar Knight of Christ menyimpulkan.
Tanggal 4 Juli 1187 menjadi hari yang bersejarah bagi kaum Muslimin.
Karena di tanggal inilah ketika Subuh seluruh pasukan kaum Muslimin
pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mengepung rapat posisi pasukan
Salib. Singkatnya, dengan perjuangan yang sangat berat melawan pasukan
Salib yang saat itu juga berusaha melindungi Yerusalem dari serbuan
serangan kaum Muslimin, Yerusalem pun akhirnya kembali jatuh ke tangan
kaum Muslimin. Mengenai peristiwa bersejarah ini, film
Kingdom Heaven ‘merekamnya’ dengan sangat apik.
Akibat kejatuhan Yerusalem ini ke tangan kaum Muslimin yang kata Ordo Sion di dalam
Dossiers Secrets disebabkan
oleh penghianatan Gerard de Ridefort dan juga akibat kegegabahan Guy de
Lusignan dan tentu saja sebab-sebab yang lain, Biarawan Sion dan
Ksatria Templar resmi pecah. Mengenai perpecahan ini, Rizki Ridyasmara
dalam “
Knight Templar Knight of Christ,” menulis:
“Satu tahun setelah kejatuhan Yerusalem, tahun 1188, secara resmi Ordo
Sion melepaskan segala tanggungjawab dan memutuskan hubungan dalam
bentuk apapun terhadap Ksatria Templar. Perpecahan ini dikabarkan
diperingati dengan upacara ritual yang dinamakan dengan Penebangan Pohon
Elm. Tidak jelas apa maksudnya. Sejak itu, secara resmi Ordo Sion
menyatakan Ksatria Templar tidak ada lagi ikatan apapun dengannya… Untuk
mempertegas hal tersebut, Ordo Sion mengubah namanya menjadi Biarawan
Sion. Jika sebelum tahun 1188, Ordo Sion dan Ksatria Templar memiliki
satu Grand Master yang sama, maka sejak tahun itu mereka memiliki Grand
Masternya sendiri-sendiri. Menurut Dokumen Biara, Grand Master Ksatria
Templar pertama di tahun 1188 adalah Jean de Gisors”. Rizki menambahkan,
meskipun mereka secara resmi telah berpisah, namun kenyataannya mereka
masih tetap berhubungan dan melakukan kerjasama meskipun melalui gerakan
bawah tanahnya.
Mengenai hubungan rahasia ini, penulis meyakini disebabkan karena mereka
mempunyai satu tujuan dan satu Ideologi, yaitu Kabbalah. Kabbalah
sendiri adalah ajaran mistis dan esoteris yang menyembah dewa dewi. Jika
kita merunutnya jauh ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa
sesungguhnya ajaran penyembah setan ini diciptakan oleh para penyihir
dari Mesir kuno yang menjadi pendeta sekaligus penasehat Fir’aun. Tak
hanya Fir’aun yang mereka pengaruhi, para Pendeta Amon ini pun berhasil
mempengaruhi rakyat Mesir. Para Pendeta Amon ini pun begitu disegani
oleh Fir’aun. Sehingga dalam perjalanannya, mereka berhasil menghasut
Fir’aun untuk memusuhi Nabi Musa
‘Alaihissalam dan risalah yang dibawanya.
Di dalam al-Qur’an peristiwa ini digambarkan sangat jelas oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Apalagi saat Fir’aun mengumpulkan para penyihir terhebat dari seluruh
negeri untuk mengalahkan Nabi Musa. Namun, dengan kekuasaan dan izin
Allah SWT, sihir para penyihir itu berhasil ditaklukkan oleh Nabi Musa.
Para penyihir itu pun setelah melihat mukjizat Nabi Musa langsung
mengakui kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Musa. “Sungguh itu
bukanlah perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhami dari setan. Tapi
sesuatu yang digerakkan kekuatan gaib yang menandakan kebenaran
kata-kata Musa dan Harun. Maka tidak alasan bagi kami untuk tidak
mengimani risalah yang mereka bawa dan beriman kepada Tuhan mereka
sesudah apa yang kami lihat dan saksikan dengan mata kepala mereka
sendiri,” ujar para penyihir sambil bersujud di depan Nabi Musa
‘Alaihissalam.
Namun setelah beberapa lamanya, keimanan Bani Israil terhadap kerasulan Nabi Musa dan Nabi Harun
‘Alahissalam memudar
dan hilang. Tepatnya setelah Allah menyeberangkan Nabi Musa dan Bani
Israil dari laut dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Pada saat itu
Nabi Musa pergi ke Bukit Thursina untuk seorang diri untuk menerima
“Firman yang Sepuluh” (
The Ten Commandment) dan mengenai urusan
penjagaan Bani Israil diserahkan kepada Nabi Harun. “Kekosongan” inilah
dimanfaatkan oleh salah seorang pengikut Nabi Musa dan Harun dari
kalangan Bani Israil bernama Samiri.
Samiri sendiri adalah salah seorang dari Bani Israil yang masih memegang
kepercayaan Kabbalah sebagai falsafah hidup. Bahkan ia disebut sebagai
salah seorang petinggi Kabbalah yang berhasil menyusup ke dalam umat
Nabi Musa. Dia pun mengeluarkan sebuah patung anak sapi dan mulai
membujuk Bani Israil untuk kembali kepada ajaran nenek moyangnya,
Kabbalah atau penyembahan terhadap berhala-berhala. Propaganda ini
berhasil dan ketika Nabi Musa kembali ke kaumnya, beliau pun marah
melihat prilaku umatnya. Mereka berkilah sambil mengeluarkan sebuah
patung anak sapi yang dapat bersuara. “
Maka mereka berkata: ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.”
(QS. Thahaa: 86-88).
Begitulah sebuah peristiwa yang menjelaskan kepada kita semua, bagaimana
Iblis melalui anak buahnya mempengaruhi pikiran Bani Israil sehingga
sampai saat ini mereka, kaum yang kini disebut Yahudi, masih menganut
dan mengamalkan ajaran Kabbalah lewat kitab Talmud. Kitab yang sengaja
diciptakan oleh para pendeta Yahudi yang menganut ajaran ini untuk
menyaingi bahkan membuang Kitab Taurat asli yang menyuruh penyembahan
kepada Allah SWT dan tidak menyekutukannya. Kitab Talmud sendiri berisi
penghinaan terhadap Tuhan yang disamakan dengan makhluk ciptaannya dan
juga berisi penghinaan terhadap agama lain di luar Yahudi seperti Islam
dan Kristen, dengan menyebutnya sebagai
Ghoyim atau kaum
Gentiles(Budak).
Kembali ke topik. Melihat kekayaan, kebesaran sampai jaringan kekuasaan
para Templar yang makin luas, Raja Perancis Phillipe IV pun muak dan
iri. Hal ini disebabkan karena ia tidak mempunyai pengaruh terhadap para
Templar lalu karena ia mempunyai hutang yang sudah membengkak
disebabkan pembiayaan Perang Salib kepada Ordo ini. Akibat dendam, ia
pun menyuruh seorang utusan bernama Von Nugari untuk menyampaikan
permintaan kepada Paus Clement V untuk membantunya balas dendam. Paus
Clement V pun menyetujuinya dengan alasan berhutang budi kepada Phillipe
IV. Singkatnya, Paus Clement V bekerjasama dengan Raja Perancis
Phillipe IV pun mengeluarkan surat perintah untuk menangkap dan
mengadili para Ksatria Templar lewat vonis inquisisi karena diduga para
Templar telah melakukan bid’ah.
Lalu, pada tahun 1312, secara resmi Paus Clement V mengeluarkan maklumat
pembubaran Ksatria Templar yang kemudian disusul penangkapan Grand
Master Ksatria Templar, bernama Jacques de Molay pada 1314, dua tahun
setelah maklumat pembubaran itu dikeluarkan. Pada bulan Maretnya,
Jacques de Molay pun di bakar hidup-hidup di tiang salib. Tepatnya di
belakang Gereja Notre Dame, Paris di depan umum. Di dalam kobaran api
itu, de Molay meneriakkan kutukan dengan sangat keras bahwa setahun
setelah ia mati, Paus Clement V dan Phillipe Ie Bel juga akan ikut mati.
Tiba-tiba saja hal itu terbukti, keduanya, Paus Clement V dan Phillipe
Ie Bel meninggal secara berurutan dan misterius.
Dari sinilah bermula, para Templar yang kabur ke berbagai negeri di
Eropa itu akhirnya meninggalkan segala “pernak-pernik” Ksatria Templar.
Mereka menyembunyikan segala identitas pribadi mereka. Di Skotlandia,
mereka diterima oleh King Robert The Bruce. Para Templar ini pun
menyusup ke dalam pekerjaan tukang Batu. Lewat kegiatan inilah mereka
mulai menguasai para Mason tersebut. Di Portugal, mereka mengubah nama
ordo mereka menjadi
knight of Christ Order dan di Spanyol mereka bergabung kedalam tim ekspedisi Vasco da Gama.
Freemason berdiri secara resmi di Inggris pada tahun 1717. Freemason sendiri berasal dari dua kata,
free dan
mason.
Free berarti bebas dan
Mason (
Masonry) berarti pembangun, juru bangun dan membangun
[3].
Dan seperti halnya sebuah organisasi, Freemason mempunyai struktur
keanggotaan tersendiri. Dan dari semua jenjang ini Freemason dapat di
kelompokkan ke dalam tiga jenis jenjang keanggotaannya. Berikut ketiga
jenis Freemason tersebut
[4]:
- Symbolism Freemason (Freemason Simbolik).
Freemason Simbolik adalah para anggota yang terdiri dari orang-orang
Yahudi dan kaum Ghoyim. Pada level ini, anggota non-Yahudi (kaum Ghoyim)
masih dimungkinkan untuk terlibat dan aktif. Karena level ini masih
bersifat umum. Meski begitu, di dalam level ini mempunyai 33 tingkatan
yang digunakan untuk tahap penyaringan, kaderisasi dan proses seleksi
pada jenjang berikutnya. Pada level ini, aktivitas atau kegiatan
organisasi ini masih seputar pemberian bantuan kemanusiaan, seperti
bantuan pendidikan, kegiatan sosial, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan
kemanusiaan mereka ini juga dapat kita lihat di situs resmi mereka,
Masonicworld.com.
Karena gerakan Freemason bersifat elitis, maka proses perekrutan biasanya melaui acara
private party yang
sangat berkelas. Sehingga dapat menarik minat orang-orang terpandang
untuk dapat mengikuti acara yang mereka buat. Orang-orang yang menjadi
target perekrutan biasanya adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh di
dalam masyarakat, seperti, politisi, keluarga kerajaan kaum cendikiawan
dan lain sebagainya.
- Tahap selanjutnya adalah tingkatan Freemason Royal (Freemason
Kerajaan). Di dalam tingkatan ini adalah orang-orang yang sudah
membuang jauh kepercayaan awal yang dianutnya, seperti agama,
nasionalisme dan prinsip-prinsip dasar lainnya dengan menggantinya
dengan prinsip-prinsip Masonik. Contoh tokoh pada level ini seperti
Winston Churchil dan juga Lord Balfour.
- Freemason of the Universe (Freemason untuk Alam Semesta).
Ini adalah jenis tingkatan terakhir dari seorang Mason. Pada level ini,
hanyalah orang yang berdarah Yahudi saja yang dapat masuk ke dalam tahap
ini dan tentu saja harus mematuhi setiap doktrin Freemason sepenuhnya.
Mereka yang telah berada pada posisi ini biasanya perannya sudah lebih
berpengaruh (baca berkuasa) daripada seorang Paus bahkan Presiden
sekalipun. Jadi jangan heran jika Perdana Menteri Israel begitu berkuasa
penuh atas Presiden Amerika Serikat dalam pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan Israel, Palestina bahkan masalah keamanan Timur Tengah,
karena seluruh pemimpin Zionis adalah mereka yang telah duduk di level
ini.
Sebelum tahun 1717, sebenarnya Freemason sudah eksis. Karena beberapa
keluarga kerajaan Inggris dilantik sebagai anggotanya. Mereka adalah
Robert Moray pada tanggal 20 Mei 1641 dan seorang lagi yang masih
terhitung anggota keluarga raja di Inggris, Eliash Ashmole pada tanggal
16 Oktober 1646. Tahun 1717 ini sendiri adalah tonggak bagi Freemason
untuk memulai perang melawan agama-agama langit yang dianut oleh
masyarakat dunia pada umumnya. Di tahun ini pulalah di bangun sebuah
Loji besar di Inggris bernama
Grand Lodge of England.Pada masa itu, doktrin Kabbalah sudah mempengaruhi pola pikir masyarakat Inggris dan Eropa pada umumnya.
Yang menjadikan faktor kebencian orang-orang Yahudi terhadap agama
Kristen adalah karena, seperti biasanya, orang-orang Kristen berhasil
“mengusik” ketentraman mereka dalam beragama. Di Perancis, khususnya di
tiga kota: Aix, Arles dan Marsailles, Sinagog (rumah ibadah umat Yahudi)
berada dalam keadaan terancam. Raja Perancis saat itu memaksa
orang-orang Yahudi ini untuk masuk ke dalam agama Kristen. Kontan hal
ini mengganggu batin kaum Yahudi Perancis.
Diduga, dari sinilah berawalnya permusuhan hebat di kalangan Yahudi
terhadap Kristen—meskipun sebenarnya dendam permusuhan mereka sudah ada
sejak dari nenek moyang mereka di zaman Fir’aun (seperti yang telah
penulis bahas sedikit di atas), bahkan jauh sebelumnya sejak Iblis, si
Raja Kegelapan atau lebih dikenal dengan Lucifer, terusir dari Surga
karena menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam—dan sebagai
landasan umum yang mereka pakai sebagai dasar rencana untuk menguasai
dunia
[5] (
Novus Ordo Seclorum—Tatanan Dunia Baru, seperti yang tertera pada uang satu Dolar Amerika Serikat).
Sebuah surat pada tanggal 24 Juli 1489 dari Perancis dikirimkan oleh
seorang pendeta Yahudi (Rabi) bernama Shamur meminta pendapat atas
situasi mencekam atas penindasan yang dialami masyarakat Yahudi Perancis
oleh masyarakat Kristen Perancis ke Istanbul (Turki) kepada Pemimpin
Tertinggi Yahudi yang langsung dibalas dengan jawaban sebagai berikut:
“Saudara-saudara, dengan rasa sedih pengaduan kalian kami pelajari.
Derita nasib buruk yang kalian alami membuat kami ikut bersedih. Kalian
mengadukan, bahwa Raja Perancis telah memaksa kalian memeluk agama
Nasrani. Kalian sulit menentang perintah paksaan itu, maka masuklah
agama Nasrani. Tetapi harus di ingat, bahwa ajaran Musa harus kalian
pegang erat-erat dalam hati sanubari. Umat Kristen memerintahkan supaya
kalian menyerahkan harta benda kalian. Laksanakanlah. Selanjutnya
didiklah putra-putri kalian menjadi pedagang dan pengusaha tangguh, agar
pelan-pelan bisa merebut kembali harta benda itu dari tangan mereka.
Kalian juga melaporkan, bahwa mereka mengancam keselamatan hidup kalian.
Maka binalah putra-putri kalian menjadi dokter, agar bisa membunuh
orang-orang Kristen secara rahasia. Mereka menghancurkan tempat
peribadatan kalian. Maka, didiklah putra-putri kalian menjadi pendeta
agar bisa menghancurkan gereja mereka dari dalam. Mereka menindas dengan
melanggar hak dan nilai kemanusiaan. Maka, didiklah putra-putri kalian
sebagai agen-agen propaganda dan penulis, agar bisa menelusup keberbagai
jajaran pemerintahan. Dengan demikian, kalian akan bisa menundukkan
orang Kristen dengan cengkeraman kuku-kuku kekuasaan internasional yang
kalian kendalikan dari balik layar. Ini berarti pelampiasan dendam
kesumat kalian terhadap mereka.”
Maka, lewat sosialisasi surat perintah dari pemimpin tertinggi Yahudi di
Konstantinopel yang intensif melalui Rabi Shamur ini,
berbondong-bondonglah orang-orang Yahudi masuk Katolik, tentu saja
dengan motivasi balas dendam dan faktor keamanan
[6]. Penyusupan kedalam agama Kristen Katolik ini dimanfaatkan secara sangat baik oleh orang-orang Yahudi ini.
Jauh sebelum surat dari Pemimpin Tertinggi Yahudi ini dikeluarkan,
seseorang dari Tarsus diutus ke dalam agama Kristen untuk melakukan
pengrusakan terhadap ajaran Kristen, lalu setelah itu—secara
terselubung—memasukkan unsur-unsur ajaran Kabbalah (Paganisme) ke dalam
kekristenan itu sendiri. Siapa dia? Tak lain dan tak bukan ialah Paulus
yang kini lebih dikenal sebagai Santo (orang suci) Paulus. Paulus juga
lah yang dikabarkan merubah ajaran Kristen menjadi agama misi, sama
halnya dengan agama Islam.
Faktor utama para Ordo Kabbalah ingin merusak ajaran Kristen dengan
menyusup kedalamnya adalah karena sebenarnya mereka tidak mengakui Yesus
sebagai Kristus melainkan mereka mengakui Yohannes Pembaptis sebagai
Kristus. Faktor lainnya karena pada saat itu Peter si Pertapa mengatakan
bahwa ialah pewaris gereja Yesus bukan kepada Maria Magdalena, yang
konon kabarnya sebagai Istri Yesus. Padahal Ordo Kabbalah sangat
menginginkan agar Yesus mewariskan gerejanya kepada Maria Magdalena.
Disinilah puncak kebencian mereka terhadap Kristen. Dan surat dari
Konstantinopel pada 24 Juli 1489 itu semakin meyakinkan lagi hal ini.
Untuk menghilangkan keraguan Yesus adalah Tuhan dan Trinitas sebagai
doktrin kekristenan maka digelarlah sebuah konsili besar di Nicea pada
tahun 325 Masehi. Pada Konsili ini Kaisar Romawi, Konstantin akhirnya
mengeluarkan empat buah keputusan resmi yang berisi, menetapkan hari
kelahiran Dewa Matahari dalam ajaran pagan, tanggal 25 Desember, sebagai
hari kelahiran Yesus. Lalu, Hari Matahari Roma menjadi hari Sabbath
bagi umat Kristen dengan nama Sun-Day, Hari Matahari (Sunday). Kemudian,
mengadopsi lambang silang cahaya yang kebetulan berbentuk salib sebagai
lambang kekristenan, dan yang terakhir, mengambil semua ritual ajaran
paganisme Roma kedalam ritual atau upacara-upacara kekristenan
[7].
Di dalam sebuah cerpen “
Prahara dari Nicea”
[8] karya
Ermando Sanzio disebutkan bahwa kemenangan kaum Trinitarian dalam
konsili ini karena pada saat itu terjadi sebuah kecurangan. Disebutkan,
bahwa kelompok Trinitarian (yang mempercayai konsep Trinitas)
mengusulkan agar kedua belah pihak (Trinitarian dan Unitarian atau
kelompok yang masih mempercayai konsep Tauhid yang dibawa oleh Yesus)
untuk berdoa dan meletakkan seluruh Injil yang ada ke bawah meja lalu
keluar dari ruang tempat diadakan konsili tersebut agar kembali besok
untuk melanjutkan kembali konsili yang tertunda karena perdebatan antar
kubu pro Trinitas dengan yang menolak Trinitas yang saat itu membuat
Kaisar Konstantin marah.
“Setelah itu kita sama-sama berdoa meminta petunjuk agar Injil kebenaran
menampakkan diri di atas meja besar ini sedangkan yang palsu biarlah
tergeletak di bawah. Hingga esok pagi kita kembali ke ruangan ini maka
bersama telah kita ketahui mana Injil yang akan kita jadikan kitab
suci,” kata mereka kepada Kaisar Konstantin. Usul ini akhirnya di terima
oleh Kaisar Konstantin pada waktu itu.
Namun besoknya, ketika mereka kembali ke ruang konsili, secara aneh,
beberapa buah Injil tergeletak di atas meja. Sontak hal ini membuat
Kaisar dan lainnya (kecuali Arius dari kubu Unitarian) terkesima dan
percaya bahwa Injil yang tergeletak di atas meja itulah yang asli
(benar). Dari sinilah penulis mengambil kesimpulan asal mula kemenangan
kelompok Trinitarian yang mewakili Gereja Paulus. Singkatnya, seluruh
Injil yang tidak sesuai dengan konsep Trinitas dibakar dan dimusnahkan.
Bahkan Gereja mengancam akan menindak tegas (hukuman mati) bagi siapa
saja yang kedapatan menyimpan Injil yang dilarang. Sebuah larangan yang
tidak main-main.
Kaisar Konstantin sendiri adalah seorang penganut ajaran Kabbalah yang
tidak pernah dibaptis memeluk Kristen bahkan hingga pada saat
kematiannya ia masih tetap penganut Kabbalah. Motivasi ia mengadakan
Konsili Nicea adalah untuk menjaga kestabilan dan keamanan di daerah
kekuasaannya karena saat itu kedua kubu tersebut sedang bertikai yang
menyebabkan gejolak di dalam masyarakat pada waktu itu. Setelah Konsili
lanjutan yang diadakan di Tyre, dua konsili lagi digelar. Konsili
Antiokia (351 M) dan Konsili Sirmium (359 M). Pada kedua Konsili ini
diputuskan bahwa keesaan Tuhan adalah dasar kekristenan dan tidak
mengakui konsep Trinitas. Namun, karena saat itu Gereja Paulus sudah
berkembang amat pesat di Eropa sehingga menyebabkan rakyatnya tidak
perduli lagi kepada hasil dari kedua Konsili tersebut.
Kini setelah berabad-abad silam, mereka terbukti lagi berhasil
menghancurkan Kristen lagi, dengan cara memprovokasi dan mendukung para
penentang yang melawan eksistensi Gereja Katolik. Adalah Martin Luther
dengan para pendukungnya mengeluarkan protes melalui 95 pernyataannya
yang secara berani menentang otoritas Kepausan pada tanggal 31 Oktober
1517. Gerakan protes ini kemudian di dalam kekristenan sendiri disebut
Protestan. Disusul oleh John Calvin yang menyuarakan Calvinisme. Dalam
waktu singkat, jumlah pengikut Luther bertambah begitupun dengan
pengikut Calvin
[9].
Gerakan protes atau gugatan dan reformasi Gereja Katholik Roma ini
ternyata dimanfaatkan betul oleh kalangan Yahudi terutama Freemason.
Motivasi utamanya adalah membalaskan dendam orang tua mereka yang telah
dikejar dan dibasmi oleh Paus dan institusi pendukungnya. Lambat laun
hal ini tercium oleh Luther yang menyadari kalau diantara banyak
pengikutnya ada para pewaris Templar yang mempunyai motivasi berbeda
dengannnya. Pada awalnya ia terkecoh oleh meningkatnya para
pendukungnya.
Ia pun merasa kesembilan puluh lima (95) nota protes kepada Gereja
itupun merupakan kebenaran dan ia pun jelas terharu atas antusiasme
orang-orang yang membela pendapatnya itu. Setelah sadar, Luther pun
dengan cepat dan tegas memerintahkan kepada pengikutnya untuk tidak
berhubungan langsung dengan orang-orang Yahudi yang menyusup kedalam
gerakan protesnya, agar tidak termakan tipu daya Yahudi sembari
menghujat mereka
[10].
Gurita cengkeraman Freemason ini memang semakin parah, sehingga membuat
Gereja Katolik berang. Maka Paus dan para pemimpin tertinggi Gereja
Katolik Roma (Vatikan) mengeluarkan larangan kepada para penganut
Katolik untuk masuk kedalam organisasi Freemason ini. Vatikan sadar
betul bahaya Ordo Kabbalah ini bagi kekristenan dan khususnya kepada
para umatnya.
Di dalam buku “
Kebangkitan Freemason dan Zionis di Indonesia”,
disebutkan sedikitnya ada delapan Paus yang “menfatwakan” larangan
terhadap orang-orang Kristen untuk turut dalam aktivitas Freemasonry ini
dalam waktu yang berbeda-beda, tentunya. Berikut nama-nama kedelapan
Paus tersebut:
- Paus Clement XII pada tahun 1738
- Paus Benedict XIV pada tahun 1751
- Paus Pius VII pada tahun 1821
- Paus Leo XII pada tahun 1825
- Paus Pius VIII pada tahun 1829
- Paus Gregory XVI pada tahun 1832
- Paus Pius IX pada tahun 1846 dan 1873
- Paus Leo XIII pada tahun 1884 dan 1892
Didalam “fatwanya” tersebut Paus Pius IX dan Paus Leo XIII, yang
dikatakan sebagai Paus yang sangat sengit menentang organisasi ini,
menyebut Freemason sebagai Iblis untuk Masyarakat Modern. Begitupun
dengan Paus Leo XXII yang dengan tegas menyebut Freemason sebagai
gerakan penghancur agama beserta tatanan yang sudah ada di masyarakat
yang menggantinya dengan berbasiskan kekuatan supranatural
[11].
Ketegasan Gereja Katolik dalam mengambil keputusan pelarangan terhadap
Freemasonry memang sangat tepat mengingat pengaruh gerakan anti agamanya
yang semakin menggerogoti pemikiran para umatnya. Salah satu aktivitas
anti agama yang paling terkenal adalah Kelompok Api Neraka (
Hell Fire Club). Sebuah artikel karya Daniel Willens berjudul “
Hell Fire Club: Sex, Politics and Religion in Eighteenth Century in England” yang diterbitkan dalam jurnal Gnosis, menggambarkan secara jelas aktivitas kelompok ini
[12]:
“Pada malam-malam yang diterangi cahaya bulan selama pemerintahan Raja
George III dari Inggris, anggota-anggota Pemerintahan yang sangat
berkuasa, para intelektual penting, dan artis-artis yang berpengaruh
kadang dapat terlihat melintasi Sungai Thames dengan gondola ke sebuah
reruntuhan biara di dekat Wycombe Barat. Di sana, di bawah bunyi nyaring
bel biara yang ternoda, mereka mengenakan jubah biarawan dan
bersenang-senang dengan segala bentuk kebejatan, yang berpuncak pada
Misa Hitam yang diselenggarakan pada tubuh telanjang seorang wanita
ningrat yang asusila dengan diketuai oleh bandot tersohor Sir Francis
Dashwood. Kebaktian setan berakhir, lingkaran dalam akan berpindah
tempat untuk merencanakan perjalanan Kerajaan Inggris.”
Kelompok Api Neraka ini didirikan oleh Philip, Duke of Wharton
(1698-1731) sekitar tahun 1719. Willens mencatat bahwa Phillip adalah
seorang politikus Whig dan tentu saja seorang Mason yang kemudian
diangkat menjadi Grand Master Freemasonry dari
The Great Lodge of England pada
1722. Selain itu, lanjut Willens, Phillip adalah seorang ateis yang
suka memperolok-olok agama dengan memimpin keramaian dengan memakai
hiasan-hiasan “Satanik” di muka umum. Rizki dalam bukunya “
Knights Templar Knights of Christ”
menambahkan, bahwa ketika mendirikan kelompok “Rahib-rahib dari St.
Medmenham,” nama lain dari The Hell Fire Club, Phillip saat itu masih
berumur 21 tahun.
Beberapa nama yang tercatat sebagai anggotanya adalah saudara Dashwood, John Dashwood-King; John Montagu,
Earl of Sandwich;
John Wilkes; George Bubb Dodington, Baron Melcombe; Paul Whitehead; dan
sekumpulan orang-orang lokal yang tidak terlalu profesional maupun
bereputasi baik, demikian Harun Yahya yang mengutip pernyataan Willens.
Sir Francis Dashwood, menjelang tahun 1739, menemui Abbe Nicollini, dan
pada tahun itu juga Paus Clement XII mengeluarkan surat perintah
bernama
Eminenti Apostalatus Specula yang mengungkapkan inkuisisi atas Loji beserta anggota Freemasonnya.
Berbarengan dengan pemberontakan terhadap Gereja Katolik, penyebaran
ajaran Kabbalah di Inggris dan Eropa sudah semakin menunjukkan hasil.
Hasil dari kesuksesan ajaran penyembah Lucifer ini adalah munculnya para
pemikir bebas yang mengkritisi Injil dari Vatikan. Para pemikir bebas
ini menafsirkan injil sesuka hati. Buah dari pemikiran ini muncul
isme-isme penentangan terhadap agama seperti Darwinisme, Hedonisme,
Kapitalisme dan lain sebagainya.
Di Perancis, paska Revolusi Perancis, para pemikir bebas yang tergabung
dalam Freemasonry ini berhasil mengeluarkan undang-undang (UU)
anti-klerikal. Menyusul dikeluarkannya UU tersebut, 3000 sekolah agama
ditutup, pelajaran-pelajaran agama dilarang, ribuan pendeta ditangkap
dan dibunuh, sebagian dari mereka diasingkan dan dianggap sebagai warga
kelas dua
[13]. Akibatnya, Vatikan memutuskan hubungan diplomatik dengan Perancis pada tahun 1904.
Selain di Perancis, perang melawan agama yang dimotori oleh Freemason
juga terjadi di jantung agama Kristen Katolik sendiri, yakni Vatikan. Di
Roma, Italia, Freemason menggerakkan sebuah organisasi bernama
Carbonari.
Sebuah nama yang diambil dari pembuat arang. Berbagai pemberontakan
digerakkan untuk menghapus peran agama dalam pemerintahan di Italia.
Saat itu, Vatikan masih berkuasa penuh terhadap Italia sehingga Italia
disebut sebagai Negara Kepausan. Negara Kepausan akhirnya berakhir di
tangan gerakan Persatuan Italia, pimpinan Giuseppe Mazzini, Giuseppe
Garibaldi dan Count de Cavour. Persatuan Italia yang sebenarnya gabungan
dari Carbonari dan sebuah gerakan yang dimotori oleh para pemuda Italia
yang disebut “Italia Muda” ini berhasil menyekulerkan Italia dengan
memisahkan Vatikan (Agama) dengan Italia (Negara).
Harun Yahya, seorang peneliti tentang Yahudi asal Turki, mencatat sangat
jelas perjalanan kaki tangan Freemason ini dalam upaya untuk
menghancurkan peran agama dalam kehidupan bermasyarakat di Italia,
seperti berikut ini
[14]:
“Sudah menjadi rahasia umum bahwa Carbonari didirikan oleh kaum Mason
yang terlibat bersama mereka dalam kegiatan-kegiatan revolusioner.
Seusai Revolusi Juli di Prancis pada tahun 1930, organisasi tersebut
kehilangan pengaruhnya dan secara bertahap menghilang. Di Italia,
Carbonari bersatu dengan gerakan ”Italia Muda” yang didirikan oleh
Guiseppe Mazzini. Mazzini, seorang ateis tersohor, selama bertahun-tahun
telah bertarung melawan Negara Kepausan dan Gereja dan pada akhirnya
menjadi seorang Mason ranking atas yang akan menjadi pendiri Persatuan
Italia.”
“Dengan dukungan dua orang Mason terkemuka lain, Guiseppe Garibaldi dan
Count di Cavour, ia mendirikan Persatuan Italia pada tahun 1870, serta
menggariskan perbatasan Negara Kepausan di belakang batas-batasnya yang
telah ada. Setelahnya, Italia memasuki sebuah proses yang membuatnya
kian menjauh dari agama, dan mempersiapkan pondasi bagi kediktatoran
fasis Mussolini di tahun 1920-an. Singkatnya, dapat kita katakan bahwa
Mazzini, Garibaldi, dan Cavour merupakan tiga pemimpin terkemuka yang
melakukan fungsi penting dalam pertarungan melawan agama di Eropa.”
Dari dua peristiwa ini, secara langsung dapat kita simpulkan, bahwa,
Revolusi Perancis dan pemberontakan di Italia adalah awal dari revolusi
yang diciptakan untuk memusnahkan setiap agama samawi (langit) yang ada
di dunia ini. Setelah berhasil menggerakkan kedua kekacauan ini,
Konspirasi kembali meletuskan perang dunia dan yang kini sedang dalam
proses adalah Perang Dunia III. Sebuah perang yang akan mengakhiri
setiap kekacauan yang ada di seluruh dunia. Penulis meyakini ini adalah
yang dalam peradaban Barat disebut dengan
Armageddon sedangkan kita (umat Islam) menyebutnya
al-Qiyamah (Kiamat).
Di Balik Revolusi Dunia
Selain mengobarkan perang melawan agama mereka juga berhasil mengobarkan
perang meruntuhkan pemerintahan monarkhi di seluruh dunia. Di atas,
kita telah melihat upaya mereka dalam upaya menghapus peran agama dari
kehidupan masyarakat, yang dikarenakan dendam mereka terhadap Gereja
Katolik yang telah menumpas mereka pada tahun 1312 (padahal sejak awal
mereka memang ingin merusak setiap agama langit yang ada). Dari sejumlah
literatur sejarah disebutkan bahwa Freemason juga adalah otak dari
revolusi Inggris, Perancis, Rusia, Turki juga Arab. Selain itu, Perang
Dunia I dan II adalah juga hasil karya mereka. Lantas benarkah demikian?
Mari kita merunutnya dari rencana perang pertama mereka yakni Revolusi
Inggris.
1) Revolusi Inggris
Sebelum terjadinya Revolusi Perancis, Konspirasi sudah lebih dulu
membidik Inggris. Saat itu Konspirasi sudah berhasil menyuap Oliver
Cromwell, adalah seorang Panglima Perang Inggris yang digunakan oleh
Konspirasi untuk menggulingkan Kerajaan Inggris melalui militer. Di lain
sisi perlawanan para Pemikir Bebas juga digerakkan dalam hal revolusi
terhadap Gereja Katholik. Setelah berhasil menggulingkan Raja Inggris
Charles I yang dituduh berkhianat dan membunuhnya pada tahun 1649
beserta para pengikut setia raja dari parlemen.
William Guy Carr mencatat, bahwa tujuan utama persengkongkolan Yahudi
bukan sekedar untuk balas dendam tapi lebih dari itu, yakni menguasai
perekonomian Inggris. Caranya, pihak Konspirasi meletuskan api
peperangan antara Inggris dengan Negara lain. Peperangan tentu
memerlukan banyak biaya, dari sinilah para pemilik modal Yahudi
memainkan perannya dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga yang
sangat tinggi. “Dengan ketergantungan keuangan itu akan memberikan
mereka kesempatan untuk mendikte kebijakan pemerintah yang bersangkutan,
disamping akan mendapatkan keuntungan uang yang berlipat ganda dari
hutang yang mereka pinjamkan,” kata mantan anggota dinas rahasia Inggris
ini.
Setelah Inggris berhasil ditaklukkan, yaitu lewat gerakan penggulingan
Raja Charles I, pada tahun 1689, William of Orange atau William III dan
putri Mary berhasil naik tahta. Pada saat itu, Konspirasi berhasil
menaikkan William of Orange sebagai pahlawan Protestan dengan ikut
menceburkan diri dalam perang melawan Katolik yang saat itu dipimpin
oleh mantan Raja Inggris yang dipaksa turun tahta pada 1688, James II.
William III sendiri adalah seorang yang begitu fanatik mendukung gerakan
pembaharuan Kristen yang dipmpin oleh Martin Luther. Di lain sisi saat
itu rakyat Inggris masih ingin mengembalikan James II sebagai raja
mereka.
Peristiwa peperangan itu bermula ketika James II kembali ke Irlandia,
Negara bagian Inggris Raya yang pada Maret 1689 telah menjadi Katolik.
Maka, tepat pada 12 Juli 1689, pertempuran sengit antara Protestan
melawan Katolik pun terjadi. Akibat perang tersebut, dalam kurun waktu
empat tahun terhitung sejak tahun 1694-1648, hutang Inggris kepada
pemodal Yahudi membengkak dari £ 1.250.000 menjadi £ 16 juta
[15].
Para pemodal Yahudi yang memberikan pinjaman tidak diketahui
identitasnya sampai saat ini. Karena ini adalah salah satu syarat hutang
yang diajukan pemodal Yahudi kepada Inggris. Selain syarat itu, pihak
pemodal Yahudi juga menginginkan pemerintah Inggris memberikan
rekomendasi istimewa bagi berdirinya
Bank of England, sebuah Bank sentral swasta pertama di dunia.
2) Revolusi Perancis
Sebenarnya sejak awal Perancis telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh
Raja Bavaria tentang bahayanya Konspirasi Yahudi Internasional ini.
Peringatan ini tidaklah main-main. Sebuah dokumen dari seorang utusan
Konspirasi yang tewas tersambar petir ditemukan oleh pihak kepolisian
Bavaria. Dokumen tersebut berisi sandi-sandi yang setelah dipecahkan
ternyata adalah proyek Yahudi yang membahayakan dunia. Setelah dilakukan
pengusutan lebih jauh oleh kepolisian Bavaria, maka ditemukanlah
dokumen yang sama di tempat lain. Kasus inilah yang melatarbelakangi
mengapa Raja Bavaria mengirim surat kepada Perancis dan juga Negara
Eropa lainnya, termasuk Inggris. Tetapi karena kuatnya pengaruh
Konspirasi di Perancis, maka peringatan ini hanya sebatas peringatan.
Tidak lebih. Mary Antoinette, istri Raja Perancis, Louis XVI dengan
enteng menjawab surat peringatan tersebut: “Mengenai masalah yang
berhubungan dengan Perancis, keprihatinan Anda terlalu dibesar-besarkan
mengenai kegiatan Freemasonry itu. Aku dicegah percaya, gerakan itu di
Perancis merupakan gerakan yang terkecil diantara yang ada di seluruh
Eropa.”
[16]
Peringatan itu akhirnya terjadi juga. Beragam fitnah yang dilancarkan
Freemason melalui kaki tangannya menerpa Raja Perancis, Louis XVI dan
istrinya Mary Antoinette. Selain gosip keretakan rumah tangga Raja Louis
dan Mary, krisis ekonomi adalah salah satu peristiwa yang menyebabkan
meletusnya Revolusi Perancis. Di dalam pelajaran sejarah disebutkan
bahwa krisis ini disebatkan oleh kehidupan boros keluarga besar
Kerajaan. Padahal ini jelas pembohongan publik dunia. Lady Queenburgh
berhasil membongkar penipuan ini. Ia menjelaskan bahwa yang berada di
balik Revolusi Perancis adalah pihak Konspirasi Internasional
[17].
Singkatnya, di tengah carut marutnya Perancis, maka Revolusi Perancis
pun meletus. Revolusi ini dimotori oleh Napoleon Bonaparte. Siapa
Napoleon? Napoleon lahir di Korsika, 15 Agustus 1769. Sejak kecil ia
termasuk anak yang cerdas di sekolahnya. Singkatnya setelah mengarungi
dunia kemiliteran Perancis, ia pun dipercaya sebagai pemimpin tentara
Perancis di Italia
[18].
Ia pun menjadi panglima perang Perancis yang disegani dunia. Hal ini
tidak disia-siakan oleh Konspirasi. Para pemodal Yahudi itu pun langsung
memberikan bantuan dana besar-besaran untuk membiayai perang yang
dipimpin oleh Napoleon Bonaparte ke Eropa. Saat itu Napoleon telah
diangkat menjadi Raja Perancis.
Lambat laun, bantuan dana yang begitu besar dari Rothschild itu
membuatnya curiga. Namun niatnya untuk memukul para pemodal tersebut
tercium juga oleh Konspirasi, pimpinan Nathan Rothschild. Mulailah
pihak Konspirasi menghajar Napoleon lewat perang di Rusia. Stok pasukan,
senjata, dan makanan dicekal dengan memutuskan jalur logistiknya.
Alhasil Napoleon turun tahta dan di buang ke Pulau Elba. Namun pada
1815, Napoleon berhasil kabur dari Elba dan berhasil membangun
pasukannya yang berjumlah hampir 300 ribu orang. Lagi-lagi, niat
Napoleon tercium sama Konspirasi. Ia berhasil dikalahkan oleh Duke of
Wellington pada tahun itu juga. Wellington sendiri adalah salah seorang
Freemason
[19].
Napoleon pun akhirnya menyerahkan diri kepada Inggris, lalu diasingkan
ke Pulau St. Helena di Samudera Atlantik. Kabarnya, kematian Napoleon
adalah karena di racun dengan Arsenikum sedikit demi sedikit ketika
berada disana
[20]. Benarkah demikian?
Wallahu a’lam.
3) Revolusi Rusia[21]
Setelah mengalami kesemrawutan akibat perang melawan Perancis pada 1812,
Czar Rusia, Alexander I kemudian segera membenahi negerinya. Ia
mengeluarkan sebuah UU yang dapat mempersatukan setiap lapisan
masyarakat yang terkena dampak perang. Salah satu UU tersebut
mengembalikan orang-orang Yahudi yang berada di pengasingan untuk
kembali berada di Rusia. Pada masa pemerintahan Czar Nicholas I lain
lagi. Orang-orang Yahudi dipaksa untuk memasukkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah yang ada di Rusia, agar kelak bisa saling dapat membaur
dalam masyarakat Rusia. Langkah ini kemudian dilanjutkan oleh Czar
selanjutnya yang bernama Alexander II. Ia mengeluarkan instruksi kepada
para pejabat di Rusia untuk membuka lowongan pekerjaan untuk orang-orang
Yahudi sebesar-besarnya.
Peraturan yang dikeluarkan oleh Czar Alexander II ini ternyata dipandang
lain oleh para petinggi Yahudi Internasional. Mereka menganggap
pembauran ini dapat mengancam identitas orang-orang Yahudi disana.
Konspirasi untuk membunuh Alexander II pun dilancarkan pada 1866, tetapi
gagal. Pihak Konspirasi pun belajar dari pengalaman. Usaha pembunuhan
Czar Alexander II berhasil, karena termakan tipu daya mereka. Ia dibunuh
secara misterius di dalam sebuah rumah milik seorang wanita Yahudi
kaya, Hessia Helgman pada tahun 1881.
Satu tahun setelah kematian Czar Alexander II yang misterius, keluar
sebuah laporan pengusutan kasus tersebut yang dipimpin oleh Czar Rusia
berikutnya benama Alexander III. Isi laporan tersebut adalah orang-orang
Yahudi telah berhasil menguasai seluruh lapangan pekerjaan di Rusia.
Bahkan mereka ingin menguasai seluruh sendi-sendi perekonomian Rusia
dengan cara yang sistematis. Kekaisaran Rusia pun melakukan perlawanan
terhadap Yahudi. Konspirasi Yahudi Internasional pun balas dendam.
Mereka memboikot seluruh produk buatan Rusia. Rusia pun tertimpa krisis
akibat blokade pihak Yahudi ini berbarengan dengan kerusuhan di dalam
negeri yang di sebabkan juga oleh dukungan dana dari pihak Konspirasi
Internasional.
Krisis multi dimensi ini menjadi alat bagi kaum revolusioner yang tumbuh
dari kalangan terpelajar untuk melakukan perlawanan terhadap
Kekasiran Rusia. Singkatnya, Kekaisaran Rusia pun tamat digantikan oleh
Uni Sovyet. Setelah itu, Rusia dipimpin oleh blok Komunis pimpinan
Lenin, Trotski, dan Rasputin. Partai Komunis berhasil menguasai Rusia
dengan menetapkan peraturan yang tidak membolehkan mendirikan partai
oposisi
[22].
Secara ideologis, Uni Sovyet yang berhaluan komunis sangat bertentangan
dengan Amerika Serikat dan Eropa Barat yang Kapitalis. Hal ini membuat
dengan mudah bagi Konspirasi Yahudi Internasional untuk memainkan
peranannya dalam setiap konflik yang ditimbulkan oleh kedua belah pihak.
Dua ideologi (Kapitalisme dan Komunisme) yang memang berasal dari
ajaran Yahudi dalam rangka proyek untuk menguasai dunia.
4) Revolusi Turki dan Arab
Setelah Konspirasi Yahudi Internasional, Freemasonry dan Illuminati
berhasil menguasai Kerajaan Inggris dan juga mendirikan Negara Amerika
Serikat. Maka telunjuk Konspirasi kini mengarah kepada sebuah negara
yang berhasil menguasai daerah-daerah di kawasan Jazirah Arab dan
sebagian Eropa, yakni negara yang mereka sebut The Old Sick-Man. Benar!
Negara itu adalah Daulah Islam Usmani yang berpusat di Istanbul, Turki
(Konstatinopel). Tujuan Konspirasi menjadikan Kekhalifahan Usmaniyah
sebagai target apalagi kalau bukan ingin melapangkan usahanya dalam
mendirikan negeri buat orang-orang Yahudi yang menyebar ke seluruh
dunia. Meskipun sejatinya mereka sudah punya negara yakni Amerika
Serikat.
Secara langsung, pihak Konspirasi menganggap Turki Usmani sebagai
penghalang terbesar bagi berdirinya negeri buat mereka, yaitu Negara
Zionis Israel, yang terletak di Palestina. Sebelumnya pemuka-pemuka
Yahudi ini berhasil menggelar sebuah konferensi Zionis I di Bassel,
Swiss pada 1897 yang menggagas pendirian Israel. Setahun sebelum kongres
Zionis tersebut, Theodore Herzl, seperti disinggung di muka, menemui
Sultan Abdul Hamid II yang saat itu masih memimpin Turki. Dalam
pertemuan itu, Sultan Abdul Hamid II menolak dengan tegas tawaran Herzl
yang bersedia memberikan bantuan keuangan dalam jumlah besar jika Sultan
Usmaniyah ke-27 itu mau memberikan tanah Palestina ke Yahudi.
“Jangan lagi engkau membicarakan hal ini. Saya tidak akan menyisihkan
sejengkal pun tanah Palestina karena itu bukan milik saya tapi milik
rakyat…,” jawab Sultan Abdul Hamid II dengan tegas. Herzl pun merasa
tersinggung dengan jawaban seperti ini. Pada 1897, Herzl kembali
mengirim utusan untuk menemui Sultan Abdul Hamid II. Namun lagi-lagi,
Herzl lewat para utusannya itu pulang dengan tangan hampa. Melihat
respon yang buruk ini dari Kekhalifahan Turki Usmani maka dijalankanlah
program penghancuran Daulah Islam terakhir itu.
Seperti program-program yang sudah-sudah, Konspirasi memanfaatkan
orang-orang dalam sebuah Negara yang ingin dihancurkannya. Begitupun
dengan Turki Usmani, Konspirasi Yahudi Internasional berhasil mengutus
seorang Yahudi dari kota Salonika, bernama Mustafa Kemal Pasha. Di
kemudian hari lebih dikenal dengan Mustafa Kemal Attaturk. Karir
militernya sangatlah panjang. Selain menjadi seorang perwira, ia juga
bergabung dengan organisasi Turki Muda (Turki Fatat/ Young Turk). Lalu,
pada tahun 1907, ia masuk dalam organisasi Al-Ittihad wa At-Taraqi. Dari
kedua organisasi inilah awal mula ia bersentuhan amat dalam dengan lobi
Freemason dan Inggris, hingga ia menjadi Presiden Republik Turki
pertama, yang juga tak terlepas dari campurtangan keduanya.
Dalam sebuah halamannya, majalah Al-Mujtama’a edisi 425-426 melansir
sebuah dokumen rahasia seorang Duta Besar Inggris Lother tahun 1910
mengenai hubungan rahasia antara organisasi Al-Ittihad wa At-Taraqi dan
Turki Fatat dengan Freemasonry
[23]:
ü Telah jelas bahwa para konseptor gerakan Turki Muda di Salonika mempunyai hubungan erat dengan orang-orang Yahudi.
ü Sebagian besar anggota perwakilan organisasi Al-Ittihad wa
At-Taraqi adalah Mason, yaitu dalam dewan perwakilan dan pimpinan
perkumpulan yang disebut Dustur. Menteri dalam Negeri Thal’at Bek
termasuk tokoh pimpinannya.
ü Ketua cabang Al-Ittihad wa At-Taraqi di Konstantin adalah seorang Yahudi dari Salonika.
ü Para anggota Al-Ittihad wa At-Taraqi meniru semua metode dan teknis yang dipakai dalam Revolusi Perancis.
Isi dokumen aslinya sebenarnya sangatlah panjang. Termasuk memaparkan
beberapa tokoh-tokoh Mesir yang termasuk sebagai anggota Freemason.
Hal ini juga dibenarkan oleh Assyahid Dr Abdullah Azzam. Dalam bukunya
Al-Manarah Al-Mafqudah, beliau memaparkan secara jelas persengkongkolan Bapak Turki Modern ini dengan Inggris. Berikut ini salah satu buktinya:
“Pada tanggal 19 September 1917, Mustafa kemal dan pasukannya tiba-tiba
mundur dari wilayah strategis di timur Nablus secara cepat pada malam
hari saat pasukan Kerajaan Inggris pimpinan Jendral Allenby tiba
disana. Padahal posisi pasukan Allenby pada saat itu belum memungkinkan
untuk meraih kemenangan… Mengenai peristiwa ini, seorang Jenderal Turki
berkomentar: ‘Telah terjadi kesepakatan secara rahasia antara Mustafa
Kemal dengan panglima pasukan Inggris, Jenderal Allenby. Isi kesepakatan
tersebut adalah Mustafa Kamal akan menarik mundur pasukannya secara
mendadak, sehingga tentara Turki tidak mampu melakukan pertahanan. Tentu
saja hal itu membuat mereka jatuh ke tangan musuh (dengan sangat mudah,
penulis)’. ”
Selain memanfaatkan Bapak Turki Modern ini, Konspirasi juga berhasil menunggangi sebuah suku di Arab bernama suku Anzah
[24] yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya bernama Abdul Azis.
Dengan dukungan dari Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud melakukan
pemberontakan bersenjata melawan Khalifah. Gerakan Wahhabi yang
dimotori oleh provokasi Lawrence dari Inggris ini berupaya merampas
wilayah yang dipimpin oleh Kekhalifahan Usmaniyah dengan maksud agar
mereka dapat mengatur wilayah tersebut dengan mazhab yang mereka anut.
Mereka juga berhasil menyerang Kuwait dan mengepung Baghdad. Pada 1803,
mereka juga berhasil menduduki Mekkah dan menguasai Madinah pada musim
semi tahun berikutnya.
Jauh hari sebelum pesengkongkolan penggulingan Khalifah dan
menghancurkan secara total Khilafah Usmaniyah, Inggris telah berjanji
untuk memberikan tampuk kekuasaan Khalifah berikutnya kepada pembesar
Mekkah saat itu, Syarif Husain. Seperti yang kita ketahui, Keluarga Saud
sangat dekat dan setia kepada Inggris dan Inggris pun mengakui hal ini
dengan secara penuh men-support keluarga Saud baik lewat dana, militer
dan politik. Sehingga pantas saja, jika Inggris berjanji palsu akan
berupaya mendirikan Khilafah Arabiyah buat klan Saud tersebut. Tak hanya
itu, bahkan menurut sebuah sumber disebutkan bahwa seluruh budaya Barat
telah diadopsi oleh Keluarga Saud ini, seperti mabuk-mabukkan, yang
dimotori oleh Lawrence of Arabia. Yang hal ini juga kita tidak dapat
menampiknya bahwa sesungguhnya di dalam keluarga Daulah Usmaniyah
sendiri hal ini juga bisa saja terjadi.
Sama halnya di dalam tubuh masyarakat Turki, orang-orang Arab juga
membentuk beberapa perkumpulan yang menyerukan semangat nasionalisme
Arab. Seperti Persaudaraan Arab-Usmaniyah di Astana. Demi semakin
mendukung hal yang sama, beberapa kedubes negara Eropa juga mulai
mendirikan organisasi dan partai bagi bangsa Arab. Seperti Partai
Desentralisasi yang berpusat di Kairo, Komite Reformasi dan Forum
Literal di Beirut
[25].
Gerakan Turki Muda maupun Al-Ittihad wa At-Taraqi sesungguhnya amat
membenci Arab. Terbukti, dengan memisahkan masyarakat Arab dan Turki
dari setiap lini, dari mulai wilayah pemerintahan sampai militer.
Hembusan nasionalisme yang ditiupkan oleh Ahmad Ridha, pemimpin
Al-Ittihad wa At-Taraqi di Paris terbukti berhasil. Hal inilah
sebenarnya pemicu pemberontakan bangsa Arab disamping hal lainnya.
Melihat usahanya dalam memecah belah Khilafah Usmani hampir berhasil,
Inggris pun mulai menyusun rencana penguasaan wilayah-wilayah milik
Daulah Usmaniyah dengan metode perundingan-perundingan Internasional.
Dengan cara ini Inggris telah berhasil mendiktekan syarat-syaratnya
kepada Khalifah Usmaniyah.
Pada tahun 1916, Inggris, Perancis dan Rusia menyepakati perjanjian
Sykes-Picot tentang pembagian wilayah Daulah Usmaniyah (termasuk wilayah
Palestina yang akan diberikan kepada Zionis Yahudi). Meski Inggris
telah berjanji memberikan wilayah Anatolya di Turki dan sekitarnya di
sepanjang Laut Tengah kepada Italia pada sebuah pertemuan rahasia di
London setahun sebelumnya, namun perjanjian yang paling berharga bagi
negara-negara sekutu ini tidak diberitahukan kepada Italia, yang
sebenarnya mendapat jatah juga. Dan pada tanggal 27 April 1917, Inggris,
Perancis dan Rusia pun menandatangani perjanjian tersebut. Lalu setelah
perang, negara-negara sekutu inipun mulai menduduki wilayah-wilayah
Ottoman tersebut.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 2 November 1917, Menteri
Luar Negeri (Menlu) Inggris yang juga kaki tangan Zionisme
Internasional, Lord Arthur Balfour mengirimkan surat kepada Pemimpin
Komunitas Yahudi Inggris, Walther (Lord) Rothschild, untuk diteruskan
kepada Federasi Zionis yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan
pemerintah Inggris untuk memberikan wilayah Palestina kepada kaum
Yahudi, yang saat itu masih dikuasai oleh Khilafah Turki Usmani. Poin
isi surat tersebut adalah:
- Pemerintah Kerajaan Inggris menyetujui prinsip mengenai berdirinya sebuah Negara untuk bangsa Yahudi di Palestina.
- Pemerintah Kerajaan Inggris akan mendukung sepenuhnya dan akan
menempuh segala cara dan upaya agar tercapainya tujuan ini, yakni
berdirinya sebuah Negara buat bangsa Yahudi di Palestina[26].
Upaya Inggris dalam menghancurkan Khilafah Turki Usmani mencapai
detik-detik kemenangannya. Tanggal 20 November 1922, Perjanjian Lausanne
dibuka. Muhammad Qadim Zallum selaku peneliti sebab-sebab keruntuhan
Khilafah Turki Usmani menulis di dalam bukunya
[27],
bahwa pada perjanjian ini turut hadir pihak yang kalah Perang Dunia I,
yaitu wakil Khalifah Daulah Usmaniyah yang berasal dari delegasi
pemerintahan Ankara dan Menlu Inggris, Lord Curzon sebagai pimpinan
delegasi menggantikan Lord Arthur Balfour, karena pemerintahan Llyod
George telah mengundurkan diri pada tanggal 19 Oktober 1922.
Selama perundingan, sambung Zallum, pimpinan delegasi Inggris, Lord
Curzon menetapkan empat syarat sebelum memberikan pengakuan atas
kemerdekaan Turki. Syarat-syarat tersebut adalah
[28]:
- Penghapusan Khilafah secara total
- Pengusiran Khalifah sampai keluar batas-batas negara
- Penyitaan kekayaan Khalifah, dan
- Pernyataan sekulerisasi Negara
Namun perundingan tersebut gagal pada 4 Februari 1923 karena tidak
diperoleh keputusan apapun. Pasca perjanjian tersebut terjadi kekacauan
di dalam Majelis Nasional disebabkan mereka tidak menyetujui keempat
syarat yang diajukan Menlu Inggris, Lord Curzon. Mustafa Kemal merasa
mayoritas anggota Majelis Nasional menentang bahkan ada juga yang
memusuhinya. Ia pun menyusun rencana pada sebuah perjamuan makan malam
agar Majelis Nasional menyetujui setiap keputusannya. Bapak Turki
Sekuler pun menyusun rencana pembubaran Majelis Nasional dan membentuk
pemerintahan baru. Di dalam perjamuan tersebut ia mengundang beberapa
sahabatnya, diantaranya Ismat Pasha, Fathi dan Kemaluddin. Di akhir
pembicaraan, Mustafa Kemal mengatakan, “Sekaranglah waktunya kita
mengakhiri kekacauan ini. Besok kita akan menyatakan berdirinya
republik. Inilah penyelesaian bagi masalah-masalah tersebut. Oleh karena
itu, anda, Fathi, harus mempersulit segala persoalan di Majelis
Nasional sejauh yang ada mampu, agar Anda dapat menghasut para anggota
agar saling bertentangan. Kemudian anda, Kemaluddin, mengajukan usulan
agar saya diundang untuk mengambil alih kendali dengan maksud untuk
menyelamatkan Majelis Nasional dari krisis.”
Esoknya, rencana Mustafa Kemal itu pun dilaksanakan. Sesuai rencana,
Majelis Nasional pun mengundang Mustafa Kemal untuk datang dan menolong
pemerintahan yang dilanda krisis. Pada awalnya ia menolak untuk hadir
tetapi karena itu adalah rencananya ia pun bersedia hadir dengan syarat
agar Majelis Nasional tidak menolak seluruh usulannya. Majelis Nasional
pun menyetujuinya. Di dalam parlemen ia mengatakan bahwa pangkal dari
krisis itu adalah sistem Kekhilafahan itu sendiri.
“Sumber dari
krisis ini bukanlah perkara yang sederhana, namun karena kesalahan
mendasar dari sistem pemerintahan kita. Majelis Nasional melaksanakan
fungsi sebagai lembaga legislatif sekaligus lembaga eksekutif. Setiap
anggota Majelis Nasional masih harus ikut campur dalam tiap pengambilan
keputusan pemerintahan dan turut mengatur departemen-departemen
pemerintahan dan keputusan-keputusan para Menteri. Tuan-tuan! Tidak
seorang Menteri pun yang dapat melaksanakan tanggungjawabnya dan
menerima kedudukannya dalam kondisi seperti itu. Anda harus menyadari
bahwa pemerintahan yang di bangun dengan landasan seperti itu tidak akan
dapat berdiri tegak, dan kalaupun tegak, itu suatu pemerintahan yang
kacau. Kita harus mengubah keadaan ini. Oleh sebab itu, saya telah
memutuskan bahwa Turki harus menjadi sebuah republik dengan seorang
Presiden terpilih[29].”
Singkatnya, Khilafah Turki Usmani pun resmi dibubarkan pada tanggal 3
Maret 1924. Dan seperti yang diajukan oleh agen Zionis, Lord Curzon pada
Perjanjian Lausanne, seluruh kekayaan Khalifah dikuasai oleh
pemerintahan baru, Republik Turki sedangkan Khalifah dan keluarganya
diungsikan ke luar negeri. Kemudian sepeninggal Khilafah Turki Usmani
keadaan Turki berubah 100 derajat! Mustafa Kemal yang telah bergelar
“Attaturk” itu pun menghapus huruf Arab dari setiap kurikulum pendidikan
dan menggantinya dengan tulisan Turki dan Latin. Bagi masyarakatnya
yang tidak ingin mengikuti hal ini maka hukuman terberat akan menanti
mereka. Ia juga melarang poligami dan hijab dan juga mengimpor seluruh
budaya Eropa ke dalam negeri Turki. Ia merubah dua Mesjid Agung Aya
Sophia dan Al-Fatih sebagai Museum. Mengeluarkan para wanita dari rumah
untuk dipekerjakan di instansi-instansi pemerintahan, membangun ladang
percontohan ternak yang menghina Islam dengan memelihara babi, memasang
patung-patungnya di setiap tempat
[30].
Mustafa Kemal Attaturk juga melarang Azan yang menggunakan bahasa Arab,
begitupun dengan pembacaan Alquran yang harus dibaca dengan menggunakan
bahasa Turki. Jika ia mendengar sebuah Masjid berazan dengan menggunakan
bahasa Arab, maka Masjid itu akan segera dihancurkan. Ia juga mengganti
penggunaan Kalender Hijriyah dengan Kalender Gregorian Barat. Menghapus
dua hari raya umat Islam, yakni Idul Fitri dan Idul Adha, dan lain
sebagainya. Ia telah menjadi seorang pemimpin yang diktator dan pembenci
agama.
Semangat Mustafa Kemal sejalan dengan organisasinya, Freemasonry, yakni
menghancurkan pilar-pilar agama dari tubuh Turki dengan merobohkan
sebuah bangunan yang mulai rapuh bernama Kekhalifahan Usmaniyah.
Lantas, bagaimana dengan nafsu Keluarga Saud untuk mendirikan
Kekhilafahan sendiri. Nampaknya hal itu akan sia-sia belaka. Sebab
Inggris yang direncanakan akan menyerahkan kekuasaan di Jeddah tidak
datang memenuhi undangan. Kedok Inggris yang jahat pun akhirnya terbuka.
Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur. “Arab pun tidak mempunyai
lagi nyali untuk mendirikan Kekhilafahannya sendiri. Kalaupun ada,
itupun hanya sebatas surat menyurat antara Syarif Husain dengan Mustafa
Kemal Attaturk,” tulis Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad
Ismail Yusanto dalam jurnal organisasinya,
Al-Wa’ie edisi
Agustus 2007. Keluarga Saud pun akhirnya mendirikan sebuah sistem
Monarkhi, Kerajaan yang bukan berasal dari ajaran Rasulullah saw.
Pada 24 Juli 1924, Perjanjian Laussanne ditandatangani dengan
kesepakatan perdamaian. Negara-negara memberikan pengakuan atas
kemerdekaan Turki dan Inggris pun menarik mundur pasukannya dari
Istanbul dan kawasan selat. Ada hal menarik dari kejadian ini yang
membuka kedok Inggris sesungguhnya, saat itu salah seorang perwira
polisi Inggris menyatakan protes kepada Curzon di parlemen mengenai
pengakuan Inggris atas kemerdekaan Turki.
Menlu Inggris itu pun
menjawab, “persoalan utamanya adalah bahwa Turki telah dihancurkan
dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan
kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam.”
Seperti Revolusi yang sudah-sudah, rencana Konspirasi untuk
menghancurkan sebuah Negara yang menghalangi kegiatan mereka tergolong
berhasil dengan memanfaatkan putra negara yang ingin dikuasai tersebut.
Begitupun dengan Turki, yang dihancurkan oleh penghianatan putranya
sendiri bernama Mustafa Kemal Pasha.!